Berita

 

Employee RetentionTempat kerja yang bermakna bukan hanya memantik kebahagiaan, tapi juga memperkuat loyalitas. Saat karyawan menemukan makna dalam pekerjaannya, mereka tidak mudah tergoda untuk pindah. Retensi tak lagi sekadar soal gaji atau fasilitas, tetapi menyentuh identitas dan rasa memiliki.

Banyak profesional memilih bertahan di organisasi yang menghargai mereka bukan hanya sebagai karyawan, tetapi sebagai manusia. Perusahaan yang mengembangkan kepemimpinan yang manusiawi dan budaya kerja berbasis nilai umumnya memiliki tingkat turnover lebih rendah, meskipun pesaing menawarkan gaji lebih tinggi.

Retensi, pada akhirnya, bukan hanya tentang mempertahankan orang. Tapi tentang memberikan sesuatu yang layak dipertahankan. Dan “sesuatu” itu seringkali hadir dalam bentuk cinta pada pekerjaan, pada tim, dan pada tujuan yang menyatukan mereka.

When People Follow a Person Not a Brand

Di era digital yang semakin terhubung secara personal, kepercayaan publik terhadap suatu merek tidak lagi hanya dibentuk oleh logo atau kampanye pemasaran semata. Audiens justru lebih tertarik dan terhubung dengan sosok di balik sebuah brand—manusia yang membawa nilai, cerita, dan autentisitas. Artikel ini mengangkat fenomena menarik ketika orang memilih mengikuti figur pribadi dibanding merek itu sendiri. Sebuah refleksi penting bagi pemilik bisnis, pemasar, profesional komunikasi atau siapapun untuk meninjau ulang pendekatan mereka dalam membangun koneksi yang bermakna dengan publik.

“When People Follow a Person, Not a Brand”, baca selengkapnya di Medium : 

https://medium.com/@habillokadjaja56/when-people-follow-a-person-not-a-brand-0a062aafd316

Banner Its not your salary that makes you rich

Seringkali kita berpikir bahwa untuk menjadi kaya, kita hanya perlu mendapatkan gaji yang besar. Semakin tinggi penghasilan, semakin dekat kita pada kebebasan finansial—begitulah asumsi umum yang berkembang. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Berapa banyak orang dengan gaji puluhan juta setiap bulan, tetapi tetap merasa kekurangan? Di sisi lain, tak sedikit pula yang bergaji sederhana, namun bisa hidup tenang, memiliki tabungan, bahkan membangun aset. Hal ini membuktikan satu hal penting: bukan gaji yang membuat kamu kaya, tapi bagaimana kamu mengelola dan memaknai uang yang kamu punya.

Kekayaan sejati bukan semata soal angka dalam slip gaji, tapi soal pola pikir, kebiasaan, dan keputusan keuangan yang kamu ambil setiap hari. Prolog ini akan membawa kamu menyingkap kenyataan bahwa kebebasan finansial tak bergantung pada seberapa besar kamu dibayar, tapi seberapa bijak kamu mengelola apa yang kamu miliki.

gen Z financial planner

FRUGAL LIVING

Penerapan frugal living atau gaya hidup hemat cocok bagi kalian para Gen Z karena umur karir yang masih pendek, pendapatan yang cenderung “cukup” serta memberikanmu kesempatan untuk memulai fondasi finansial yang kokoh, memberikan ketangguhan untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi, dan meraih masa depan yang lebih stabil secara finansial. 

Frugal living bukan hanya tentang mengurangi pengeluaran, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai keuangan yang berkelanjutan sehingga dapat membangun kebiasaan menabung, mengelola utang dengan bijak, dan lebih berfokus pada investasi untuk masa depan. Memang berat bagi Gen Z untuk tidak latah dalam mengikuti trend, nongkrong sana-sini (mencicipi) coffee shop yang belum pernah dikunjungi, dan masalah godaan lainnya. Namun, kamu patut mencoba gaya hidup ini demi manajemen keuangan yang sehat.

Tambah Penghasilan dengan Skill Baru

Di era digital yang terus berkembang, Gen Z memiliki peluang emas untuk mengoptimalkan keuangan mereka. Memanfaatkan kursus online untuk meningkatkan keterampilan baru juga menjadi kunci penting, seperti coding, desain, virtual asisten, dan lainnya. Dengan memanfaatkan peluang tambahan penghasilan melalui platform daring, seperti menjadi konten kreator, penulis lepas, atau berpartisipasi dalam proyek-proyek online, kalian dapat meningkatkan pendapatan. 

Melalui pembelajaran daring, Gen Z dapat membuka pintu ke berbagai pekerjaan freelance yang sesuai dengan keahlian barumu. Atau, melakukan pekerjaan freelance yang khusus mengincar klien luar negeri dengan bayaran dolar yang relatif lebih banyak dari segi nominal. Dengan kreativitas dan ketekunan, Gen Z dapat meraih keberhasilan finansial melalui jalur-jalur ini untuk masa depan yang lebih cerah. Bahkan dari peluang baru tersebut, kamu bisa saja menjadikan pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan utama karena secara finansial lebih menjanjikan atau biasa disebut career switch.


Artikel ini telah tayang di situs Media Keuangan | MK+ dengan judul "Tips kelola keuangan bagi Gen Z - Media Keuangan"

Dana Pensiun Triputra © 2017. All Rights Reserved.

triputra group

  • Today 255
  • |
  • Yesterday 382
  • |
  • This week 1734
  • |
  • This month 4304
  • |
  • Total 391280