
Di era digital yang semakin terhubung secara personal, kepercayaan publik terhadap suatu merek tidak lagi hanya dibentuk oleh logo atau kampanye pemasaran semata. Audiens justru lebih tertarik dan terhubung dengan sosok di balik sebuah brand—manusia yang membawa nilai, cerita, dan autentisitas. Artikel ini mengangkat fenomena menarik ketika orang memilih mengikuti figur pribadi dibanding merek itu sendiri. Sebuah refleksi penting bagi pemilik bisnis, pemasar, profesional komunikasi atau siapapun untuk meninjau ulang pendekatan mereka dalam membangun koneksi yang bermakna dengan publik.
“When People Follow a Person, Not a Brand”, baca selengkapnya di Medium :
https://medium.com/@habillokadjaja56/when-people-follow-a-person-not-a-brand-0a062aafd316

